Tommy Pratomo

The Story behind everything and everyone

Not-a-Blog

Jengkol oh jengkol

Posted by Tommy Pratomo on April 27, 2011 at 9:35 AM Comments comments (0)

Saya yakin semua orang Indonesia tahu apa itu jengkol, terlepas mereka pernah memakannya atau bahkan memegangnya atau tidak. tetapi bagi saya jengkol adalah makanan raja - raja, makanan yang dinanti - nantikan tetapi tidak bisa dinikmati sesuka hati, diperlukan tata cara dan aturan serta etika memakan jengkol, selain untuk kepentingan kesehatan tetapi juga kepentingan pergaulan.

Jengkol atau dalam bahasa latin bernama Pithecollobium Jiringa adalah tanaman khas Indonesia yang sering dibuat masakan semur atau balado terutama dari masakan daerah Jawa Barat, perbatasan jawa tengah dan sebagian Sumatera. Jengkol sering dihindari karena baunya yang menyengat serta after efek dalam bau urinenya yang membuat malu di toilet umum atau saat bertamu di rumah orang, sedangkan jengkol pun tidak direkomendasi untuk dimakan terlalu sering karena dapat mengakibatkan jengkolan, yaitu dengan gejala anyang - anyangan, hal ini terjadi karena adanya partikel kristal kecil dalam zat jengkol yang menggangu saluran urine.

Terlepas semua itu jengkola dalah bagian hidup saya, meskipun jarang memakannya (karena tahu diri) tapi selalu dinanti di warteg - warteg terdekat, seingat saya perjumpaan saya pertama dengan jengkol adalah sekitar tahun 1987 saat saya masih SD dan susah makan, saya susah makan karena mudah bosan makanan rumah dan tidak suka dengan nasi yang pulen / lembek, sehingga menyuruh pembantu membeli nasi warteg yang pera dengan jenis beras pegawai negeri saat itu adalah hal yang luxurious untuk saya.

Seiring dengan seringnya membeli lauk atau sekedar nasi di warteg, terkenalah sentuhan kelezatan jengkol yang tiada tara, kelembutan tekstur jengkol tua serta wangi khas yang legit dipadu dengan kelezatan bumbu semur ala warteg sangat menggoda hati dan berkesan bagi saya seumur hidup.

Begitu senangnya saya dengan jengkol pernah beberapa mantan saya ada yang keluarganya dengan sengaja memasakan jengkol untuk saya. Bahkan beberapa waktu lalu seorang teman Vivi Rahmawati yang memang hobi masak, dengan senang hati membuatkan jengkol semur untuk saya dan maknyos mantap sekali rasanya.

Bagi anda yang belum pernah mencoba, jengkol sesekali bisa menjadi sesuatu hal eksotik yang layak dicoba, setidaknya sekali seumur hidup untuk dapat dikenang dan diceritakan ke anak cucu nanti.


Membersihkan kamar, membersihkan hati

Posted by Tommy Pratomo on April 24, 2011 at 8:20 AM Comments comments (0)

Jika ada diantara pembaca yang pernah ke kamar saya di rumah orangtua saya sekarang, dipastikan sudah tidak kaget dengan kehebohan, kekacauan dan kepecahan kamar saya ini, justru mereka akan terkejut jika tiba - tiba saya menaruh topik membersihkan kamar, sungguh bukan Tommy sekali.


Bukan saya tidak suka yang bersih dan rapih, tapi semenjak sulit mendapat pekerja domestik dirumah (maid) malas sekali rasanya membersihkan kamar ini. membersihkan disini bukanlah membersihkan dalam arti mengepel dan menyapu ya, tetapi membuang barang - barang yang tidak penting sebenarnya di kamar ini.


Saya memanglah termasuk golongan manusia melow genic, dengan komposisi 70% cancer dan 30% gemini menjadikan saya menyimpan barang tidak penting adalah sesuatu yang lazim, mungkin ada diantara pembaca yang bertanya barang tidak penting apakah yang saya simpan? Ya, saya cenderung menyimpan tiket nonton, bon makan, tiket pertunjukan, brosur hotel, brosur perjalanan, brosur apappun bergambar menarik, pernak pernik aneh dan lain lain dan lain lain.


Sejujurnya saya terkadang hanya menyimpan beberapa barang yang memang layak disimpan karena nilai sejarahnya, tetapi ada juga yang sebenarnya bernilai sejarah rendah tetapi karena ada ikatan batin dengan barang tersebut (catatan: barang bisa berupa hanya potongan tiket.red) karena ada unsur pendukung yang melengkapi dalam memorinya, seperti dengan siapa barang itu didapatkan dan momentumnya.


sungguh tidak penting rasanya di masa yang cukup sulit bagi saya saat ini terutama dalam masalah romantika, sudah selayaknya semua perintilan barang - barang tersebut segera dibersihkan dan dibuang jauh - jauh. Dan sudah terbuang....


Satu kantong plastik sampah hitam besar masih terasa padat menampung semua barang - barang itu, lucunya setiap saya memasukan barang - barang tersebut kedalam kantong sampah itu, seketika semua memori atas barang - barang itu menyeruak, baik itu kenangan indah, kenangan buruk maupun kenangan indah yang menjadi buruk.


Tanpa sadar setiap buangan saya menghela nafas dan berdoa seperti mau membuang emas kedalam got, lucu tapi nyata akhirnya semua berhasil terbuang. dan setelah dipikir - pikir buat apa saya menyimpan barang - barang tersebut pun tidak habis pikir, lha wong kalo tidak sedang mau dibuang saya saja tidak sadar kalau masih ada barang - barang itu hehe, seperti hati yang dibuang saat tidak dibutuhkan lagi.


:)